sepanjang jalan kenangan

foto dolly sebelum ditutup oleh pemerintah 

redi menyerahkan buku “hidup dan mati di tanah sengketa” cetakan asli ke warga tambak bayan

hidup dan mati di tanah sengketa

komik dari redi murti (inyo) yang juga segera dirilis pada bulan agustus, 

short story for short life

artbook dari bagus priyo sasmito (bagong) yang segera dirilis pada bulan agustus

milisi press

milixi press adalah program dari milisifotocopy di bidang penerbitan, menerbitkan buku buku dari milisifotocopy dan buku bajakan

2014

mural terbaru milisifotocopy di kampung baru bratang tangkis PDAM “kisah anak para jogokali”

silahkan download pdf free “jurnal” untuk versi cetaknya contact redisauruss@gmail.com

link download

poster workshop kisah anak para jogokali 2 tgl 15 agustus di kampung bratang gede

beberapa karya anak anak stren kali “kampung baru”

foto workshop “kisah anak para jogo kali” di stren kali “kampung baru” wonokromo surabaya.

Perkotaan atau kawasan kota memiliki struktur-struktur keruangan diantaranya ialah wilayah perkampungan, taman kota, kawasan industri, produksi, cagar budaya, pusat niaga, kawasan pinggir sungai dan lain-lain. Dari struktur wilayah-wilayah tersebut, terbagi beberapa segmentasi berdasarkan tingkat perekonomian, contohnya pemukiman untuk kelas bawah, menengah, hingga eksekutif. Semakin meningkatnya mobilitas dan pembangunan di wilayah perkotaan, menyebabkan beberapa wilayah itu mengalami imbasnya, salah satunya ialah konflik pertanahan (penggusuran, relokasi rumah, dll.). Sebagian besar penduduk yang dirugikan atas hal tersebut adalah rakyat miskin. Ironisnya, sampai hari ini perencanaan kota Surabaya belum menunjukkan keberpihakan pada penduduk miskin.

Satu contoh kasus ialah rencana penggusuran pemukiman warga stren kali Bratang Tangkis Surabaya. Pemerintah yang sebenarnya tidak memiliki peran, turut berkuasa dalam keputusan-keputusan melancarkan penggusuran tersebut. Kalimat-kalimat klise yang dilontarkan pemkot seperti, “atas nama keindahan kota” sering dijadikan landasan dalam melakukan penetrasi terhadap warga, dan tidak pernah memberikan solusi untuk pemukiman kumuh. Hilangnya jaminan tempat tinggal, atau relokasi, menjadi beban pikiran warga stren kali. Aksi demo terhadap pemerintah sudah sering dilakukan oleh warga setempat. Perjuangan merebut kembali identitas kampung serta kehidupan konkret manusia tidak bisa hanya melakukan aksi demo. Anak-anak kecil terpaksa menerima kenyataan ini sebagai kewajaran dalam kehidupan sehari-hari yang memiskinkan.

Identitas warga kampung serta kesejarahan stren kali mampu dibuat secara mandiri. Oleh karena itu, dibutuhkan proses penulisan setiap individu, mencatat kisah-kisah kehidupan mereka, baik hubungan di dalam lingkungan kecil keluarga, hingga hubungan antar-tetangga. Melalui pendekatan seni yang berbasis pendidikan, kami berkeinginan untuk melibatkan anak-anak di kampung stren kali Bratang Tangkis Surabaya dalam membuat proses kegiatan workshop kesenian yang kontekstual, dengan mengamati lingkungan di sekitarnya. Tanpa melupakan konflik yang dialami warga kampung, serangkaian acara workshop untuk anak-anak ini merupakan bagian dari upaya pendampingan mereka dalam menghadapi masalah penggusuran, serta kepedulian mereka terhadap kampung stren kali.

Kisah Anak Para Jogokali 

Kami mengambil tema “Kisah Anak Para Jogokali” sekaligus sebagai judul acara workshop, pertama-tama ketika mendatangi warga dan mengamati situasi di kampung Bratang Tangkis stren kali, kami mendengar banyak cerita serta sejarah yang sudah dilalui oleh warga setempat, mulai dari kehidupan keseharian mereka, pendampingan dari LSM yang memanfaatkan momentum, menurunnya solidaritas antar-warga kampung, sampai cerita-cerita tragis yang dialami tiap warga. Melalui tema di atas, kami memiliki gagasan bahwa kampung Jagir yang dulu, kemaren, beberapa jam yang lalu, ialah masa lalu yang tidak hanya berlalu begitu saja, yang mampu mendahului kenyataan di saat ini, namun lebih berterima jika kekinian itu adalah kekuatan untuk berbicara kebenaran-kebenaran di masa lalu. Kekuatan itu adalah anak-anak kecil yang ingin berkisah, dan tentunya dengan keberanian berupa kepercayaan diri mereka yang mau dan mampu menceritakan kesehariannya. Bukan untuk berlarut dalam tragis dan me-roman-tisme keadaan, kebenaran-kebenaran masa lalu yang dimaksud lebih mengutamakan kesejarahan tiap-tiap warga kampung tentang relasi sosial-kulturalnya.

Dengan kolaborasi yang non-otoriter, kami ingin mengajak mereka belajar bersama, menceritakan kisah kehidupan sehari-hari mereka bersama lingkungan terdekatnya, teman-temannya, tetangganya. Namun metode berkisah bukan hanya dengan cara menuliskan, akan tetapi lebih kepada cara tiap-tiap anak ber-ekspresi, baik dalam bentuk tulisan maupun gambar, atau keduanya.

Logo terbaru dari milisifotocopy karena mewakili dari semua divisi milisifotocopy

"UNTITLED"
sebuah perjalanan 6 tahun bersama hi mom!

Sebuah Pameran tunggal bagus priyo sasmito a.k.a bagong, pemuda kelahiran kota malang yang ingin mendokumentasikan perjalanan 6 tahun dirinya bersama sebuah band dari surabaya bernama hi mom!. pameran ini bersifat dokumentatif dengan menampilkan beberapa karya berupa mural, instalasi, video mapping dan karya di kanvas. Pameran ini berjalan selama 2 minggu

tanggal : 30 maret 2013
tempat: houtenhand public house malang

coming sun milisifotocopy present 30 maret 2013

gaya dulu sebelum presentasi milisifotocopy di mulai