mural terbaru milisifotocopy di kampung baru bratang tangkis PDAM “kisah anak para jogokali”

silahkan download pdf free “jurnal” untuk versi cetaknya contact redisauruss@gmail.com

link download

poster workshop kisah anak para jogokali 2 tgl 15 agustus di kampung bratang gede

beberapa karya anak anak stren kali “kampung baru”

foto workshop “kisah anak para jogo kali” di stren kali “kampung baru” wonokromo surabaya.

Perkotaan atau kawasan kota memiliki struktur-struktur keruangan diantaranya ialah wilayah perkampungan, taman kota, kawasan industri, produksi, cagar budaya, pusat niaga, kawasan pinggir sungai dan lain-lain. Dari struktur wilayah-wilayah tersebut, terbagi beberapa segmentasi berdasarkan tingkat perekonomian, contohnya pemukiman untuk kelas bawah, menengah, hingga eksekutif. Semakin meningkatnya mobilitas dan pembangunan di wilayah perkotaan, menyebabkan beberapa wilayah itu mengalami imbasnya, salah satunya ialah konflik pertanahan (penggusuran, relokasi rumah, dll.). Sebagian besar penduduk yang dirugikan atas hal tersebut adalah rakyat miskin. Ironisnya, sampai hari ini perencanaan kota Surabaya belum menunjukkan keberpihakan pada penduduk miskin.

Satu contoh kasus ialah rencana penggusuran pemukiman warga stren kali Bratang Tangkis Surabaya. Pemerintah yang sebenarnya tidak memiliki peran, turut berkuasa dalam keputusan-keputusan melancarkan penggusuran tersebut. Kalimat-kalimat klise yang dilontarkan pemkot seperti, “atas nama keindahan kota” sering dijadikan landasan dalam melakukan penetrasi terhadap warga, dan tidak pernah memberikan solusi untuk pemukiman kumuh. Hilangnya jaminan tempat tinggal, atau relokasi, menjadi beban pikiran warga stren kali. Aksi demo terhadap pemerintah sudah sering dilakukan oleh warga setempat. Perjuangan merebut kembali identitas kampung serta kehidupan konkret manusia tidak bisa hanya melakukan aksi demo. Anak-anak kecil terpaksa menerima kenyataan ini sebagai kewajaran dalam kehidupan sehari-hari yang memiskinkan.

Identitas warga kampung serta kesejarahan stren kali mampu dibuat secara mandiri. Oleh karena itu, dibutuhkan proses penulisan setiap individu, mencatat kisah-kisah kehidupan mereka, baik hubungan di dalam lingkungan kecil keluarga, hingga hubungan antar-tetangga. Melalui pendekatan seni yang berbasis pendidikan, kami berkeinginan untuk melibatkan anak-anak di kampung stren kali Bratang Tangkis Surabaya dalam membuat proses kegiatan workshop kesenian yang kontekstual, dengan mengamati lingkungan di sekitarnya. Tanpa melupakan konflik yang dialami warga kampung, serangkaian acara workshop untuk anak-anak ini merupakan bagian dari upaya pendampingan mereka dalam menghadapi masalah penggusuran, serta kepedulian mereka terhadap kampung stren kali.

Kisah Anak Para Jogokali 

Kami mengambil tema “Kisah Anak Para Jogokali” sekaligus sebagai judul acara workshop, pertama-tama ketika mendatangi warga dan mengamati situasi di kampung Bratang Tangkis stren kali, kami mendengar banyak cerita serta sejarah yang sudah dilalui oleh warga setempat, mulai dari kehidupan keseharian mereka, pendampingan dari LSM yang memanfaatkan momentum, menurunnya solidaritas antar-warga kampung, sampai cerita-cerita tragis yang dialami tiap warga. Melalui tema di atas, kami memiliki gagasan bahwa kampung Jagir yang dulu, kemaren, beberapa jam yang lalu, ialah masa lalu yang tidak hanya berlalu begitu saja, yang mampu mendahului kenyataan di saat ini, namun lebih berterima jika kekinian itu adalah kekuatan untuk berbicara kebenaran-kebenaran di masa lalu. Kekuatan itu adalah anak-anak kecil yang ingin berkisah, dan tentunya dengan keberanian berupa kepercayaan diri mereka yang mau dan mampu menceritakan kesehariannya. Bukan untuk berlarut dalam tragis dan me-roman-tisme keadaan, kebenaran-kebenaran masa lalu yang dimaksud lebih mengutamakan kesejarahan tiap-tiap warga kampung tentang relasi sosial-kulturalnya.

Dengan kolaborasi yang non-otoriter, kami ingin mengajak mereka belajar bersama, menceritakan kisah kehidupan sehari-hari mereka bersama lingkungan terdekatnya, teman-temannya, tetangganya. Namun metode berkisah bukan hanya dengan cara menuliskan, akan tetapi lebih kepada cara tiap-tiap anak ber-ekspresi, baik dalam bentuk tulisan maupun gambar, atau keduanya.

Logo terbaru dari milisifotocopy karena mewakili dari semua divisi milisifotocopy

"UNTITLED"
sebuah perjalanan 6 tahun bersama hi mom!

Sebuah Pameran tunggal bagus priyo sasmito a.k.a bagong, pemuda kelahiran kota malang yang ingin mendokumentasikan perjalanan 6 tahun dirinya bersama sebuah band dari surabaya bernama hi mom!. pameran ini bersifat dokumentatif dengan menampilkan beberapa karya berupa mural, instalasi, video mapping dan karya di kanvas. Pameran ini berjalan selama 2 minggu

tanggal : 30 maret 2013
tempat: houtenhand public house malang

coming sun milisifotocopy present 30 maret 2013

gaya dulu sebelum presentasi milisifotocopy di mulai

presentasi projek milisifotocopy “tambak bayan” di institut francais indonesia (ifi) tgl 27 februari pk 15.00 auditorium ifi surabaya

karya terbaru dari prinka saraswati

musik[media]alternatif

bicara tentang netlabel adalah bicara tentang budaya berbagi,
berpartisipasi, olah-ulang, ramu-ulang dan tepa selira. Netlabel ada
untuk memenuhi kebutuhan sajian musik terjangkau bahkan sampai gratis
namun legal. Dimulai dari sebuah revolusi musik secara digital dengan
ditemukannya format .mp3 di tahun 1993 dan pemanfaatannya secara luas
dengan diluncurkannya napster di tahun 1999 yang mempelopori
pengunduhan format musik digital namun tanpa mengindahkan hak - hak
penciptanya, walaupun ada pula yang tidak mempermasalahkannya.
Terutama hak - hak ekonomis dari distributor dan label yang bahkan
ketika penghasilan melalui penjualan jutaan kopi mampu memenuhi
kebutuhan sehari - sehari mereka bahkan kebutuhan mewah mereka. Format
mp3 kemudian memudahkan budaya mixtape untuk berkembang dengan
fasilitas cd-writer yang kemudian juga menarik kalangan produser musik
elektronik dan DJ untuk meremix atau menggunakan sample lagu yang
sudah ada tanpa perlu sibuk dengan urusan copyright karena lagu sudah
beredar luas di dunia maya lewat format .mp3. Dengan adanya format ini
dan perkembangan internet yang pesat, kemudian muncul internet record
label atau lazim dikenal dengan “netlabel”.

Netlabel membuka kesempatan lebih luas para musisi amatir yang ingin
karyanya lebih dikenal luas dengan menyebarkannya baik secara gratis
maupun berbayar di internet. Dengan pesatnya perkembangan internet,
pesat pula pembajakan software music producing sehingga terjadi
evolusi dari konsumen menjadi produsen. Hal ini menimbulkan
perkembangan dalam budaya partisipatif. Mengutip dari
ngupinginthecity.blogspot.com “Budaya partisipatif merupakan kata baru
dalam referensi, tetapi berlawanan dengan budaya Konsumen - dengan
kata lain budaya di mana orang pribadi (masyarakat) tidak bertindak
sebagai konsumen saja, tetapi juga sebagai kontributor atau produsen (
prosumers ). Istilah ini paling sering diterapkan pada produksi atau
penciptaan beberapa jenis media yang diterbitkan . Sebagai teknologi
terus untuk mengaktifkan jalan baru untuk komunikasi, kolaborasi, dan
sirkulasi ide-ide, itu juga menimbulkan peluang baru bagi konsumen
untuk membuat konten mereka sendiri. Hambatan seperti waktu dan uang
mulai menjadi kurang signifikan terhadap kelompok besar konsumen.”

Di Indonesia sendiri Netlabel diawali dengan kemunculan
Tsefula/Tsefuelha records yaitu sebuah record label mandiri yang
berbasis di archive.org. Tsefula/Tsefuelha ini pertama hanya
mendistribusikan karya – karya seorang musisi bedroom yang merekam
musiknya secara mandiri bahkan lo-fi bernama Ababil Ashari dengan
moniker “Shorthand Phonetics”. Kemudian diikuti Yesnowave.com yang
berbasis di Yogyakarta dan didirikan oleh Woto Wibowo alias wok the
rock dan Bagus “Jalang” yang juga menggunakan archive.org untuk
pengarsipan dan database. Kemudian beberapa tahun selanjutnya, kedua
netlabel itu bergabung dalam satu situs www.yesnowave.com. Yang
kemudian diikuti kemunculan netlabel lainnya beberapa tahun kemudian
di jakarta, bandung, jogja sendiri, malang dan surabaya. Yang kemudian
memunculkan Indonesian Netlabel Union dan konvensi pertamanya di
Jogjakarta pada 16-17 november 2012 kemarin.

Dengan internet dan software yang mudah didapatkan hanya dengan
diunduh, pembuatan dan distribusi karya musik maupun film yang
sebelumnya terkendala biaya yang tinggi, sekarang mampu terjangkau.
Dengan adanya situs seperti youtube dan vimeo, semua orang bisa
menjadi sutradara dan sinematografer hanya dengan modal koneksi
internet yang layak dan software komputer. Dengan situs seperti
myspace, soudcloud dan reverbnation sekarang mudah untuk semua orang
dengan kemampuan bermusik mendistribusikan dan membuat musiknya
sendiri. Dan hal ini juga mencetus kemunculan radio online sebagai
media alternatif dari radio swasta yang pada umumnya susah ditembus
oleh musisi bedroom karena memberikan persyaratan yang kadang tidak
terjangkau oleh beberapa musisi untuk media promosi. Radio online
sebagai solusi gratis promosi dan proganda musik digital dan untuk
mendirikan radio online pun tidak perlu ijin untuk menggunakan
gelombang radio yang lazim membutuhkan biaya besar.
Netlabel melihat kesempatan itu dengan mengumpulkan beberapa musisi
yang eksis di situs sosial media dan distribusi itu dan mempackagenya
secara digital pula untuk disebarkan dalam netlabel. Netlabel
mempunyai bargaining tinggi dalam hal ini yaitu koneksi, propaganda
dan pengarsipan/katalogisasi agar memudahkan konsumen untuk mencari
dan mendapatkannya. Musisi - musisi ini lazim disebut dengan bedroom
musician, karena kebanyakan membuat musik mereka di kamar tidur mereka
yang umum dilengkapi dengan komputer berkoneksi internet. Budaya
partisipatif disini kemudian menjadi masif dengan mudahnya pertemuan
produser, musisi dan label dalam dunia maya, pertemuan tak lagi
penting dilakukan di warung kopi maupun restoran, tapi dapat pula
dilakukan di kamar tidur masing - masing melalui chatting online,
social media dan bertukar data lewat situs filesharing. Di abad 21 ini
semua orang dengan koneksi internet layak dan inisiatif berkesenian
tinggi dapat berpartisipasi untuk berkarya, distribusi bahkan
berpameran secara online

oleh : Akhmad Alfan Rahadi

suasana tahun baru china (imlek) di kampung tambak bayan pada acara milisifotocopy

lampion buatan milisifotocopy di tambak bayan surabaya dengan ukuran 2mx2m